Jumat, 14 Januari 2011

Reaksi Masyarakat Indonesia Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme Eropa

REAKSI MASYARAKAT INDONESIA TERHADAP IMPERIALISME DAN KOLONIALISME EROPA

Pada abad ke 19, Indonesia telah menjadi korban imperialisme Eropa. Indonesia mengalami nasib yang sama dengan daerah imperialisme Eropa di Asia dan Afrika, pada tahun 1500 bangsa Portugis dan Spanyol datang ke Indonesia, disusul bangsa Belanda tahun 1600. Bangsa tersebut mulai menjalankan imperialisme dan kolonialisme secara bertahap. Akhirnya muncullah perlawanan rakyat Indonesia pada abad itu, yaitu:

  1. Perlawanan Rakyat Maluku
SULTAN NUKU ( 1738-1805 ) 
             
Perlawanan yang terjadi di Maluku di pimpin oleh Sultan Nuku, karena masalah kepentingan ekonomi. Perlawanan pertama terjadi pada saat VOC dibubarkan.
Muhamad Amiruddin alias Nuku adalah putra Sultan Jamaluddin (1757–1779) dari kerajaan Tidore. Nuku juga dijuluki sebagai “Jou Barakati” artinya Panglima Perang. Pada zaman pemerintahan Nuku (1797 – 1805), Kesultanan Tidore mempunyai wilayah kerajaan yang luas yang meliputi Pulau Tidore, Halmahera Tengah, pantai Barat dan bagian Utara Irian Barat serta Seram Timur. Sejarah mencatat bahwa hampir 25 tahun, Nuku bergumul dengan peperangan untuk mempertahankan tanah airnya dan membela kebenaran.
Dari satu daerah, Nuku berpindah ke daerah lain, dari perairan yang satu menerobos ke perairan yang lain, berdiplomasi dengan Belanda maupun dengan Inggris, mengatur strategi dan taktik serta terjun ke medan perang. Semuanya dilakukan hanya dengan tekad dan tujuan yaitu membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajah dan hidup damai dalam alam yang bebas merdeka. Cita-citanya membebaskan seluruh kepulauan Maluku terutama Maluku Utara (Maloko Kie Raha) dari penjajah bangsa asing.

KAPITAN PATIMURA ( 1783-1817 )

Perlawanan kedua di pimpin oleh Pattimura. Pihak Belanda lalu mengerahkan segenap kekuatannya untuk mematahkan perlawanan rakyat Maluku. Rakyat Maluku akhirnya bangkit mengangkat senjata di bawah pimpinan Thomas Matulessy yang diberi gelar Kapitan Pattimura  Maka pada waktu pecah perang melawan penjajah Belanda tahun 1817, Raja-raja Patih, Para Kapitan, Tua-tua Adat dan rakyat mengangkatnya sebagai pemimpin dan panglima perang karena berpengalaman dan memiliki sifat-sfat kesatria (kabaressi). Sebagai panglima perang, Thomas Matulessy mengatur strategi perang bersama pembantunya. Sebagai pemimpin dia berhasil mengkoordinir Raja-raja Patih dalam melaksanakan kegiatan pemerintahan, memimpin rakyat, mengatur pendidikan, menyediakan pangan dan membangun benteng-benteng pertahanan. Kewibawaannya dalam kepemimpinan diakui luas oleh para Raja Patih maupun rakyat biasa. Dalam perjuangan menentang Belanda ia juga menggalang persatuan dengan kerajaan Ternate dan Tidore, raja-raja di Bali, Sulawesi dan Jawa. Perang Pattimura yang berskala nasional itu dihadapi Belanda dengan kekuatan militer yang besar dan kuat dengan mengirimkan sendiri Laksamana Buykes, salah seorang Komisaris Jenderal untuk menghadapi Patimura.
Pertempuran-pertempuran yang hebat melawan angkatan perang Belanda di darat dan di laut dikoordinir Thomas Matulessy Kapitan Pattimura yang dibantu oleh para penglimanya antara lain Melchior Kesaulya, Anthoni Rebhok, Philip Latumahina dan Ulupaha. Pertempuran yang menghancurkan pasukan Belanda tercatat seperti perebutan benteng Belanda Duurstede, pertempuran di pantai Waisisil dan jasirah Hatawano, Ouw- Ullath, Jasirah Hitu di Pulau Ambon dan Seram Selatan. Perang Pattimura hanya dapat dihentikan dengan politik adu domba, tipu muslihat dan bumi hangus oleh Belanda. Para tokoh pejuang akhirnya dapat ditangkap dan mengakhiri pengabdiannya di tiang gantungan pada tanggal 16 Desember 1817 di kota Ambon.
Setelah Pattimura tertangkap, perlawanan dari rakyat Maluku semakin berkurang.

  1. Perang Padri
 TUANKU IMAM BONJOL ( 1722-1864 )

Kaum padri adalah kelompok dalam Sumatra Barat yang terdiri dari para ulama. Mereka melakukan pergerakan untuk memurnikan ajaran islam, namun di tentang oleh kaum adat. Pada tahun 1821, terjadi perang antar kaum padri dengan kaum adat. Kaum adat lalu meminta bantuan kepada Belanda, Belanda lalu mengirim pasukannya di bawah pimpinan Letnan Kolonel Raaf. Belanda akhirnya berhasil merebut batusangkar, dan langsung mendirikan benteng. Tahun 1825 Belanda melakukan perjanjian dengan kaum Padri. Akan tetapi pihak Belanda menuduh kaum Padri melanggar perjanjian. Belanda lalu mengirim pasukannya untuk mendudukkan Sumatra Barat. Tindakan Belanda membuat kaum adat dan kaum Padri bersatu, yang dipimpin oleh Imam Bonjol. Akhirnya pada tahun 1837 Tuanku Imam Bonjol di tangkap Belanda dan diasingkan ke Batavia, kemudian dipindahkan ke Ambon, selanjutnya dipindahkan ke Minahasa, dan meninggal disana.

  1. Perang Diponegoro
 PANGERAN DIPONEGORO ( 1785-1855 )

Sebab-sebab terjadinya perang Diponegoro ( 1825-1830 ):

  1. Sebab Umum
      Þ    Kekuasaan dan wibawa raja di Jawa Tengah merosot karena daerah kekuasaan berkurang.
Þ    Kaum Bangsawan merasa dikurangi haknya
Þ    Kerja Rodi
Þ    Membayar pajak tanah
Þ    Pemungutan pajak yang diborongkan kepada orang-orang cina

  1. Sebab Khusus
 Sebab khusus perang Diponegoro adalah pembuatan jalan meelalui tanah makam leluhur Pangeran Diponegoro. Patok-patok yang dipasang, dicabut oleh pasukan Pangeran Dipenogoro. Pencabutan dan pemasangan paok-paok iu dilakukan berulang kali, akhirnya patok-patok tersebut diganti dengan tombak sebagai pernyataan perang.

Pihak Belanda tidak menginginkan perang, oleh karena itu Belanda mengirim Pangeran Mangkubumi untuk membujuk Pangeran Diponegoro. Ketika pembicaraan sedang berlangsung, tiba-tiba Belanda melancarkan serangan.

Tapi Pangeran Diponegoro dan kerabatnya berhasil kabur. Pangeran Diponegoro melakukan perlawanan terhadap Belanda dan memusatkan pasukannya di Gua Selarong. Dalam menghadapi Belanda, Pangeran Diponegoro dibantu oleh Sentot Ali Basa Prawirodirjo, Pangeran Ngabehi JoyoKusumo dan Kiai Maja. Berkat bantuan mereka pasukan Pangeran Diponegoro dapat terus melancarkan perang gerilya. Pasukan Pangeran Diponegoro yang terkenal adalah Arkiyo dan Turkiyo.

Pada Tahun 1826, terjadi pertempuran di daerah Ngalengkong. Dalam pertempuran tersebut pasukan Pangeran Diponegoro menang. Atas kejadian itu rakyat Mataram menobatkan Pangeran Diponegoro untuk memerintah, dengan gelar Sultan Abdul Hamid Herutjokro Amirulmukminim Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa.

Pangeran Diponegoro menyadari bahwa kekuatan pasukannya jauh di bawah belanda, akhirnya Pangeran Diponegoro terus menjalankan siasat perang gerilya. Namun terjadi perselisihan dengan Kiai Maja dan Sentot Ali Basa Prawirodirjo.

Pada tahun 1829 Sentot Ali Basa Prawirodirjo memisahkan diri dan menyerah kepada Belanda. Pasukan Pangeran Diponegoro pun bertambah lemah, Belanda lalu mendirikan Benteng untuk mempersempit gerakan pasuka Pangeran Diponegoro.

Pada bulan Februari 1830 Kolonel Cleerens mengadakan perundingan dengan Pangeran Diponegoro, selanjutnya dilaksanakan di Magelang, pada bulan Maret 1830. Perundingan itu mengalami kegagalan dan Pangeran Diponegoro pun diangkap.  Pangeran Diponegoro lalu dibawa ke Batavia dan diasingkan ke Menado, kemudian pindah ke Makassar dan meninggal di benteng Rotterdam tanggal 8 januari 1855.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar